Tuesday, 2 February 2010

Hidup dan Sebuah Perjalanan

"Menghadapi masalah dengan tersenyum walau di atas tangis dan rintihan adalah cara terbaik untuk menuju hidup yang lebih baik. Selanjutnya sabar, berusaha dan yakinlah bahwa semuanya akan berubah".

Rasanya, seperti baru kemarin pagi saya berangkat kuliah ke Surabaya, meninggalkan tanah kelahiran untuk sebuah harapan. Waktu terasa begitu cepat, bagai anak panah yang melompat dan pergi entah kemana. Ingin rasanya saya berteriak menghentikan laju waktu, lalu sejenak bercengkerama dengan letih yang tertatih. Tapi sungguh, teriakan ini begitu kosong dan hanya bergema di ruang hampa kedap suara.

Maka saya hanya mampu berdoa, semoga hari ini lebih baik dari hari-hari kemarin. Meski Einstein pernah berkata bahwa masa lalu dan masa depan adalah ilusi pikiran kita semata, tapi saya percaya, sangat yakin malah, bahwa waktu akan menjadi sahabat terbaik, jawaban paling jujur di saat kita sedang terluka, terlunta di bentangan usia. Hanya harapanlah yang mampu membuat kita tetap setia menjalani hidup di saat-saat masa terus berjalan menuju senja.

Ah, ternyata sudah hampir empat tahun saya hidup di Surabaya. Betapa saya masih ingat masa-masa awal kuliah dulu, sebagai lelaki lugu di belantara metropolitan yang tak tahu arah dan hanya bermodal pasrah. Lelaki yang terkagum-kagum, terheran-heran menyaksikan tiang-tiang pencakar langit dipancangkan. Lampu-lampu bersinar amat terang, hutan-hutan beton terus bertumbuhan.

Hampir tiap pagi, saya selalu memandang jalan yang tak pernah lengang di depan kampus. Betapa hebatnya orang-orang itu, tiap hari bepergian dan disibukkan dengan pekerjaan. Suara-suara motor meraung-raung di terik siang. Suara-suara kenek angkot dan bus kota mengerang mencari penumpang. Di terminal-terminal, para calo berseliweran dan para pencopet selalu sigap mencari jajahan. Anak-anak koran dan pengamen jalanan juga tak ketinggalan.

Dari atas tol saya menyaksikan atap-atap rumah penduduk yang berdesakan, dengan genting-genting rumahnya yang tua. Jemuran silang-sengkarut. Di sampingnya mengalir keruh sungai kecil beirisi sampah dan comberan, dengan sederetan tukang becak yang mengiba di terik siang demi menunggu penumpang. Di perumahan-perumahan elit saya melihat para satpam menjaga rumah tuannya, ditemani anjing dan dikelilingi pagar besi, menjaga diri dari mati dan para pencuri. Ah, betapa hidup makin sarat absurditas dan kompleksitas yang sulit dipahami.

Pada titik inilah saya kerap bertanya: apa yang sesungguhnya kita cari dalam hidup ini? Pertanyaan yang tak sering kudengungkan dan waktulah yang menjawabnya. Waktulah yang akan manjalani dan membuktikannya.

# # #


Kemarin lusa saya mulai menjalani tugas PPL di MAN Sidorajo, setelah sebelumnya mengikuti Kuliah Kerja Nyata BDMB di Pamekasan. PPL II adalah mata kuliah terakhir sebelum proses penyelesaian skripsi. Padahal serasa baru kemarin pagi saya berangkat ke Surabaya, meninggalkan tanah kelahiran demi sebuah harapan.

Ternyata telah begitu banyak riwayat perjalanan yang tak sempat terkisahkan. Andai saya tulis di atas kertas, barangkali butuh ribuan lembar atau bahkan jutaan. Ada rubaiat luka yang menganga. Ada bait-bait suka yang tercipta. Ada rasa yang tersisa. Ada terik yang menyengat. Ada dingin yang menggigil. Dan, tentunya juga ada cinta.

Ya. ya... Hidup dan sebuah perjalanan, selalu menyisakan riwayat yang layak didengarkan. Sepanjang apapun jalan, ia pasti memiliki tikungan. Seperti nasehat sahabat saya di depan, senyum haruslah selalu menghiasi setiap jengkal perjalanan, meski itu menyakitkan. Percayahlah, segalanya akan berakhir pada saat yang telah ditentukan.

Note: Untuk sahabat semuanya, mohon maaf bila bulan-bulan ini saya jarang bersilaturrahim. dari bulan kemarin saya harus bolak-balik Surabaya-Madura untuk sebuah acara. Dan Insya Allah hampir dua bula ke depan, saya harus konsentrasi dengan PPL dan seabrek kesibukan lainnya. Tapi insya Allah saya akan update blog ini, meski jarang-jarang. Untuk sahabat-sahabat yang ngasih Award dan tag, mohon maaf bila belum saya posting. Salam...
Read full history - Hidup dan Sebuah Perjalanan

Wednesday, 27 January 2010

Unity in Diversity ; Engaging Minds, Inspiring Hearts.

Barangkali sudah menjadi sunnatullah bahwa kemajemukan hadir dalam konstelasi kehidupan sebagai penyeimbang. Pluralitas adalah keniscayaan. Maka mengingkarinya sama dengan menentang kodrat kehidupan itu sendiri. Ada banyak keragaman yang muncul, baik agama, bahasa, ras, suku dan lainnya, yang harus kita sikapi secara bijak dan penuh toleran.

Itulah yang menjadi nalar dan narasi yang hendak dibangun oleh Arusdamai.Org sebagai promotor pelaksanaan International Islamic Youth Seminar bertema Unity in Diversity pada Senin (25/1) di gedung Self Access Center (SAC) IAIN Sunan Ampel (SA). Hadir pada seminar internasional ini Syaikh Faraz Rabbani yang menjadi pengajar di Razi Institute, Syaikh Sa'ad Al Attas dari Abu Zahra Foundation, dan Syaikh Ahmed Tijani Ben Omar dari Ghana. Dan terakhir adalah Zuhairi Misrawi alias Gus Mis, satu-satunya Nasa sumber yang dari Madura.

Arus Damai, sebagaimana disebutkan di situs resminya, memang memiliki misi menjalankan aktivitas pengembangan karakter generasi muda melalui seminar, workshop, pengajian keagamaan dan lain-lain demi melahirkan generasi muda yang mampu menjadi agent of change bagi penerapan nilai-nilai Islam yang menebarkan kasih sayang. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh gejala ekstrimisme dan kekerasan beragama di Indonesia yang telah menimbulkan keprihatinan bersama, yang kemudian menggerakkan Arus Damai untuk mengartikulasikan sebuah pemahaman Islam yang dinamis, pro aktif dan sesuai dengan dinamika generasi muda muslim.



Secara sederhana, seminar ini berusaha menjadi counter interpretation atas beragam insiden kekerasan atas nama agama yang marak terjadi belakangan ini. Agama, dalam konteks demikian, ditafsirkan dengan wajah yang garang dan menyeramkan. Agama tidak lagi menjadi penyejuk kedamaian, melainkan menjelma monster yang menghancurkan. Insiden teror yang marebak dan memunculkan gelombang kekhawatiran di tubuh masyarakat harus segera dihentikan. Dan salah satu caranya adalah dengan menanamkan kembali nilai paradigma yang tepat dan benar.

Dengan tumbuhnya pola pikir yang inklusiv dan toleran, kelahiran tafsir baru atas agama diharapkan mampu menyumbangkan angin sejuk yang tidak lagi memporak-porandakan tatanan keamana dan kedamaian yang sudah terbangun. Tafsir agama tidak dilakukan secara rigid dan literlet. Maka ketika interpretasi atas agama telah mensakralkan dirinya dan menutup kritik yang lahir karena perubahan situasi tempat dan zaman tertentu, maka pada saat inilah kepentingan manusia telah berada dibalik nama agama. Pada saat yang sama, agama akan menampilkan wajah sangar dan menjauhi fungsi hakikinya sebagai penyelamat umat manusia secara keseluruhan.

Rektor IAIN SA Surabaya, Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si. yang berkenan membuka seminar tersebut menyatakan bahwa kegiatan seperti ini sangat penting bukan hanya bagi mahasiswa dan dosen IAIN SA, namun juga pada masyarakat secara luas. Sesuai dengan tema yang akan dibahas, perlu lebih disosialisasikan pemahaman bahwa kesatuan tidak menuntut keseragaman atau kesamaan. Bahkan, yang tidak sama atau seragam juga dapat menjadi satu kesatuan.

Selain seminar, kegiatan pagi itu didahului dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara IAIN SA dengan Simply Islam, sebuah organisasi di Singapura yang memperjuangan bagaimana cara menerapkan Islam dengan indah dan damai. Menurut Purek III, Prof. Dr. H. Saiful Anam, M.Ag., penandatanganan MoU tersebut ditujukan dalam rangka IAIN SA go internasional. "Dengan kerjasama ini, kita akan dapat bekerjasama dengan Simply Islam untuk mengadakan kegiatan tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Singapura dan negara-negara lain. Hal ini dalam rangka menjalankan misi Sunan Ampel go internasional", ujarnya ketika opening ceremonial, sebagaimana dilansir oleh situs resmi IAIN SA.

Akhirnya, apa yang telah diupayakan Arus Damai sejatinya merupakan langkah maju dalam rangka menegakkan nilai-nilai pluralitas dalam berbangsa dan bernegara. Sangat tepat dan cocok dengan grand tema yang diusungnya, Unity in Diversity. Pun juga dengan mottonya, Engaging Minds, Inspiring Hearts.
Read full history - Unity in Diversity ; Engaging Minds, Inspiring Hearts.

Sunday, 24 January 2010

Geliat Santri Menjadi Penulis


Malam itu, langit memang tak berbintang. Hanya sedikit gumpalan awan yang berpendar ditingkahi denyar rembulan yang mengintip diam-diam. Malam tanpa guyuran hujan. Di sebelah kanan podium yang berdiri megah, terdapat sederetan kursi khusus para ustadz yang hadir pada malam itu. Tepat di belakangnya, berdiri tegak bangunan sound yang mendentumkan kasidah Arab dengan suara-suara artisnya yang merdu. Kadang-kadang juga diselingi dengan lagu-lagu sholawat yang menghipnotis kalbu.

Di sisi panggung sebelah kiri, teman-teman KOPI sebagai panitia sibuk menjajakan buku-buku terbitan Muara Progresif, pihak penerbit yang sedang bekerjasama dengan IMABA wilayah Surabaya dalam pelaksanaan acara bedah buku Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis ini.

Selang beberapa menit kemudian, iringan santri tiba-tiba membentuk lautan manusia yang berjejal di depan panggung. Duduk bersila, bersimpuh, bahkan ada berselonjor seperti para simpatisan partai politik yang siap mendengarkan provokasi politisi yang berapi-api. Wah, ini acara demo, kampanye atau bedah buku sih?, gumamku saat itu.

Sebagai moderator, saya tentu akan sedikit kerepotan menghadapi ribuan santri yang hadir pada acara malam itu. Ini bukan forum mahasiswa, seruku kemudian. Akan sangat sulit menyuguhkan sebaris pemahaman bangi santri yang berjubel, mulai dari tingkat Ibtidaiyah sampai ALiyah. Untungnya, sebagai santri alumni, saya banyak memahami karakter dan kondisi psikologi santri yang unik dan bahkan kadang menggelitik. Jadi tidak akan shock ketika tiba-tiba ada celetuk santri yang bagi kebanyakan orang mungkin dianggap "keterlaluan".

Pihak penerbit memang sengaja mengadakan road show ke berbagai pondok pesantren di Madura, mulai dari PP. Mambaul Ulum Bata-bata Pamekasan, PP. Annuqayah Guluk-guluk, PP. Nasy'atul Muta'allimin Gapura, serta bebarapa pondok pesantren di Sumenep. Tujuannya hanya satu, yakni bagaimana dinamika para santri yang berjuang mati-matian hingga berdarah-darah untuk menjemput mimpi menjadi penulis, mampu diejawantahkan dalam benak kesadaran para santri yang lain, sehingga muncul sebentuk ghiroh kepenulisan dalam tradisi mereka. Begitulah apa yang disampaikan Tirmidzi Munahwan, sang Direktur Muara Progresif yang juga alumni pesantren ini.

Maka ketika MC bedah buku ini memasrahkan perjalanan acara sepenuhnya kepada moderator, saya berusaha menyemangati adik-adik santri agar lebih percaya diri, bahwa santri juga bisa bersaing di era digital yang kompetitif ini. "Kehadiran buku ini, paling tidak, akan menjadi antitesa dari berbagai stigma negatif yang dialamatkan pada kita, bahwa kita juga berhak punya karya. Saya berharap, setelah adik-adik mengikuti acara bedah buku ini, muncul satu kesadaran baru; bahwa santri tidak harus selalu identik dengan kaum sarungan, manusia kolot bin gaptek dan hanya melulu berkutat dengan kaidah-kaidah kitab kuning". Seruku waktu itu.

Falsafah menulis, secara teologis, dapat ditelisik dari berbagai literatur umat Islam, salah satunya adalah kitab Al-Quran. Saiful A'la, salah satu penulis yang hadir dalam acara ini mencoba menguraikan dimensi etis kepenulisan dari perspektif dakwah. Ia mengutip salah satu ayat al-Qur'an, "Nun Wa al-Qalam wa maa yasthuruun.." dan "Wa a'idduu lakum ma istatha'tum...". Menurutnya, ayat ini secara ekplisit menggambarkan adanya perintah menulis, karena menulis adalah dakwah dengan pena (bi al-qalam). Dan aktivitas dakwah, bagi seorang muslim adalah kewajiban.

Pendapat di atas juga didukung oleh kedua Pembanding, yakni Abd. Syukur Latif dan Ihsan Maulana. Dalam konteks demikian, santri yang ingin menjadi penulis, sejatinya harus selalu berpegang teguh pada norma-noram agama, dengan kata lain, harus mengindahlan etika islami dalam tulisan-tulisan mereka, bukan hanya sekedar memperturutkan egoisme nafsu dan semata-mata bertujuan ingin dipuji oleh para pembaca. Singkatnya, santri harus membangun watak islami dalam tulisan mereka dan berusaha untuk men-counter hegemoni karya-karya penulis stensilan yang hanya bisa mengumbar syahwat pembaca, seperti yang dilakukan Mazhab Dada-isme, Gerakan Syahwat Merdeka (GSM) maupun Sastra Mazhab Selangkangan (SMS) yang belakangan pernah jadi polemik dalam belantarat susastra Indonesia.

Tesis yang terakhir ini diperkuat oleh Penulis kedua, yakni Muhammad Suhaidi RB, ketika menjawab pertanyaan salah satu audiens tentang watak dan karakter kepenulisan santri. "Tulisan santri jelas harus tulisan yang baik-baik, dengan tujuan dan niat yang baik pula.." tegasnya. Suhaidi memang tidak berbicara tentang "ritual menulis" dari berbagai perspektif sebagaimana yang disampaikan Saiful A'la, misalnya, melainkan hanya bercerita tentang kisahnya yang "heroik" dalam peoses terjal kepenulisannya. Ia mengaku pernah mengirim cerpen ke berbagai media paling sedikit 32 judul cerpen. Tapi satu judul pun tidak ada yang pernah dimuat. Pelan-pelan, ia mulai mencari dan menemukan identitas muara karya-karyanya, yakni dengan melabuhkannya pada opini dan artikel lepas. "Akhirnya saya punya keyakinan bahwa Tuhan tidak mentakdirkan saya menjadi cerpenis, melainkan seorang kolomnis", paparnya sambil tertawa.

Begitulah sekelumit perjalanan acara bedah buku Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis, yang dilaksanakan oleh Komunitas Pinggiran (KOPI) PP. Mambaul Ulum Bata-bata, Pamekasan, tanggal 21 Januari beberapa hari yang lalu. Dengan harapan bahwa acara tersebut mampu memberikan hikmah yang baik bagi generasi Salaf as-Sholeh dalam menyebarkan agama Islam, utamanya dengan medium tulisan. Dan tentunya, tulisan yang mampu dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.

Barangkali benar kata Dzun Nun Al-Misry: "wa maa min kaatibin illaa saufa yublaa wa yabqa ad-dahru maa katabat yadaahu. Fa laa taktub bi khatthika ghaira syai'in tasurruka yaum al-qoyamah" bahwa "Setiap penulis akan diberi cobaan sepanjang tulisan itu masih ada. Maka janganlah kamu menulis kecuali jika tulisan kamu itu dapat membuatmu berbahagia kelak di hari Kiamat".

Maka, tradisi bedah buku sejatinya bermuara pada satu diktum agung bahwa kritik sastra/tulisan adalah supaya sang penulis tidak riya ketika karyanya diterbitkan dan mendapat pujian. Akhir kata, dengan antusiasme yang menggebu, bedah buku berjalan lancar dan mengalir "dahsyat".


Para santri antusias membeli buku


Si Pujangga lagi khusyu' tuh. Hihihi..
Read full history - Geliat Santri Menjadi Penulis

Tuesday, 19 January 2010

Kau Balut Luka dengan Keheningan Doa

kepada Fa, sahabatku paling tabah sedunia*

Sebelum kau benar-benar pergi, meninggalkan rubaiat sunyi yang kau cipta bersama mimpi, berhentilah sejenak. Ya, hanya sejenak. Semacam jeda yang telah memberimu dahaga fatamorgana. Katamu, hidup ini lelah. Dan kegelisahan paling renta adalah kekalutan rasa yang tiba-tiba muncrat, melumuri jengkal demi jengkal perjalanan rindumu yang menggelora.

Maka marilah kita reguh makna secangkir kopi hangat di Cafe ini, sembari menikmati sisa-sisa mimpi di rentetan hari-hari yang membelenggu nurani. Meski hanya sekedar dongeng usang yang kau hayati, percayalah, kita telah memulainya dari hati sendiri, di tempat paling sunyi ini.

Tak seorang yang benar-benar mengerti akan pemahamannya sendiri, termasuk juga dirimu. Maka sebesar apapun kau membenci orang yang seharusnya paling kau cintai, penyesalan sia-siamu akan segera menanti. Hanyalah rerintik sunyi yang akan menusuk-nusuk jantungmu setajam belati.

Hampir setiap berkata, kau selalu mengawalinya dengan "percaya nggak?". Seolah kau tidak pernah benar-benar percaya pada kata-katamu, pun juga kehidupanmu. Padahal, sebelum berkata, sungguh, aku telah paham makna keterasingan yang lama menjeratmu. Kau teralienasi dari ruhmu sendiri. Maka mengapa kau harus masuk pada labirin yang kau ciptakan sendiri. Ini ironi sepotong mimpi...

Pada akhirnya aku tahu, lidahmu nyaris kelu untuk mengungkapkan gemuruh kata-kata. Padahal, sungguh, aku bisa menerka betapa magma laramu terus mendidih dalam dada. Meski tak ada satu kalimat pun yang mampu menyuguhkan kepastian, tapi sungguh, ya lagi-lagi sungguh, kau telah berhasil membalut luka dengan keheningan doa-doa. Tanpa sadar, kau telah mengajariku makna ketabahan; bahwa kehilangan tak semestinya membawa penderitaan.

Malam ini kita telah berusaha melumat matahari. Menyemai mimpi menjadi serpih-serpih sunyi. Mengubur ego dalam liang-liang sepi...

Pamekasan-Surabaya, 17-20 Junuari 2010

*) Konon, sabar itu pahit, Fa...Tapi ketidaksabaran justru akan berakhir dengan kepahitan. Sama-sama pahit, bukan? lalu kau pilih yang mana? Ku ingat, kau hanya tertawa...
Read full history - Kau Balut Luka dengan Keheningan Doa

Monday, 11 January 2010

Guruku Pahlawan Sampah


Pahlawan tanpa tanda jasa itu bernama tukang sampah! Barangkali kalimat itulah yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi objektif tukang sampah yang telah berjasa merawat lingkungan sekitar kita. Bayangkan, betapa ruwetnya hidup ini jika tak ada satu orang pun yang ikhlas menjadi seperti mereka. Lalat berkerumun di depan rumah, sisa-sisa makanan dan plastik berserakan di mana-mana, bau busuk menyengat hidung membuat perut jadi mual, dan segala bentuk ketidaknyamanan lainnya.

Ya, tak ada yang berani menjadi pahlawan sampah kecuali mereka yang memiliki jiwa yang kuat dan nurani yang bersih. Jiwa mereka terlanjur kuat untuk mengenyahkan bisikan-bisikan setan yang selalu meledek bahwa menjadi tukang sampah adalah hina, profesi rendahan, manusia kotor, sekotor sampah itu. Nurani mereka terlanjur bersih untuk sekedar mengumpat-umpat dan mendiamkan tumpukan kotoran menjelama kebusukan.

Tak pernah terlintas di benak mereka, apalagi membayangkan dirinya menjadi tukang sampah, yang berjalan dari rumah ke rumah, dari gang ke gang, hanya demi memunguti barang buangan (sampah) orang lain. Ketika semua orang membenci dan menghindari bau busuk atau lalat yang kadang membawa laknat, pahlawan sampah ini malah dipaksa mengakrabinya dari hari ke hari, dengan resiko yang berat; terkena penyakit tentulah amat tinggi, selain gangguan pernapasan, penyakit kulit bisa jadi menjadi ancaman yang selalu mengintip mereka.

Parahnya, pahlawan kita ini jarang sekali, bahkan nyaris dikatakan tidak ada yang mengenakan perlengkapan yang seharusnya, seperti masker, kaus tangan, sepatu boot, bahkan jaket panjang. Dan yang tak jarang, pahlawan yang hampir tak pernah dilirik dan dihiraukan orang ini berpenghasilan minim dan perkerjaannya dinilai hina oleh sebagian besar masyarakat! Jangankan untuk berperalatan lengkap denga masker, kaus tangan dan segala tetek bengeknya, berpikir pun barangkali tak pernah! Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah sepotong mimpi, bahwa esok pagi anak dan istri mereka merengek minta sesuap nasi.

# # # # #


Pukul 2.00 dini hari. Jalan Jemur Wonosari mulai senyap. Hanya satu dua motor yang kebetulan melintas. Fajar sepertinya belum merekah. Bau busuk tiba-tiba menyengat dari luar warnet SMART, tempat saya bekerja sebagai operator warnet. Rutinitas yang hampir terjadi tipa malam. Bila bau menusuk mulai tercium, berarti sang Pahlawan talah datang, karena setelah mengangkut "barang-barangnya", ia biasanya akan membiarkan tutup tong sampah terbuka. Dan tanpa disuruh, saya pun langsung berjalan ke depan warnet menuju tong sampah, lalu menutupnya kembali.

Begitulah, hampir tiap malam, di saat kebanyakan orang terlelap dalam tidurnya, Pahlawan kita terus menyusuri lorong demi lorong, dari satu tong sampah ke tong sampah yang lain, dengan gerobak tuanya yang tetap setia menemani. Ia terus berjalan, tanpa menolah ke belakang. Rasanya ia ingin begitu cepat meninggalkan setiap orang yang ditemuinya, tanpa sepatah kata pun. Ia sepertinya memang pahlawan sunyi. Sesunyi ikhlas-baktinya pada masyarakat...

Setiap kali keluar menutup tong sampah, saya hanya bisa melihat punggunya yang begitu tabah. Dalam pandanganku yang nanar, ia masih terlihat santun tanpa kepongahan setitik pun, dan tentu tanpa dasi selayaknya para pejabat di istana negara, yang kadang justru dijuluki sampah negara! Ya, dia tetaplah lelaki tua dengan kesahajaan yang tak pernah ia paksakan. Dalam hati saya seringkali berucap:"Sungguh, kau dalah guru terbaik kehidupanku, wahai pahlawan tanpa tanda jasa...."
Read full history - Guruku Pahlawan Sampah